RS Santara RS Santara
Kembali ke Berita
12 Jul 2026

Deteksi Dini Kanker Payudara: Jangan Tunggu Muncul Gejala

Kanker payudara merupakan jenis kanker yang paling sering menyerang perempuan di Indonesia. Sayangnya, banyak pasien baru datang ke rumah sakit ketika kanker sudah berada pada stadium lanjut, sehingga pengobatan menjadi lebih kompleks dan peluang kesembuhan menurun.

Deteksi Dini Kanker Payudara: Jangan Tunggu Muncul Gejala
Kanker Payudara di Indonesia Terus Meningkat
Berdasarkan Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) 2022, terdapat sekitar 66.271 kasus baru kanker payudara di Indonesia setiap tahunnya, menjadikannya kanker dengan jumlah kasus terbanyak pada perempuan. Secara keseluruhan, Indonesia mencatat lebih dari 408.000 kasus kanker baru pada tahun 2022, dengan kanker payudara sebagai penyumbang terbesar pada wanita.

Yang perlu diwaspadai, kanker payudara tidak hanya menyerang wanita usia lanjut. Saat ini semakin banyak kasus ditemukan pada usia produktif, bahkan di bawah 40 tahun. Karena itu, mengenali faktor risiko dan melakukan pemeriksaan secara berkala menjadi sangat penting.

Siapa yang Perlu Melakukan Deteksi Dini?
Deteksi dini sangat dianjurkan bagi:

Wanita usia 40 tahun ke atas, meskipun tidak memiliki keluhan.

Wanita dengan riwayat keluarga menderita kanker payudara atau kanker ovarium.

Wanita dengan benjolan payudara, perubahan bentuk payudara, atau keluar cairan dari puting.

Wanita dengan jaringan payudara padat (dense breast).

Individu yang memiliki risiko tinggi berdasarkan penilaian dokter.

Dokter akan menentukan jenis pemeriksaan yang paling sesuai berdasarkan usia, riwayat kesehatan, dan faktor risiko masing-masing.

Mamografi: Standar Utama Skrining Kanker Payudara
Mamografi adalah pemeriksaan menggunakan sinar-X dosis rendah untuk mendeteksi kelainan pada payudara, bahkan sebelum benjolan dapat dirasakan.

Kapan Mamografi Dilakukan?
Untuk wanita dengan risiko rata-rata:

Mulai usia 40 tahun disarankan melakukan mamografi secara berkala.

Umumnya dilakukan setiap 1–2 tahun, sesuai usia dan hasil konsultasi dokter.

Bagi wanita dengan risiko tinggi, seperti memiliki riwayat keluarga atau mutasi genetik tertentu, pemeriksaan dapat dimulai lebih awal sesuai rekomendasi dokter.

Keunggulan Mamografi
Mampu menemukan kanker pada stadium sangat dini.

Dapat mendeteksi kalsifikasi mikro yang belum dapat dirasakan.

Terbukti menurunkan angka kematian akibat kanker payudara melalui deteksi dini.

Pemeriksaan relatif cepat, biasanya hanya berlangsung sekitar 10–20 menit.

Persiapan Sebelum Mamografi
Sebaiknya dilakukan sekitar 1 minggu setelah menstruasi, ketika payudara tidak terlalu nyeri.

Hindari menggunakan deodoran, bedak, lotion, atau parfum di area ketiak dan payudara pada hari pemeriksaan karena dapat memengaruhi hasil gambar.

Beritahukan dokter apabila sedang hamil atau kemungkinan hamil.

Bawalah hasil mamografi sebelumnya bila pernah melakukan pemeriksaan.

Apakah Mamografi Menimbulkan Nyeri?
Selama pemeriksaan, payudara akan ditekan beberapa detik agar gambar yang dihasilkan lebih jelas. Sebagian wanita mungkin merasa kurang nyaman, namun rasa tersebut hanya berlangsung singkat.

USG Payudara: Pelengkap yang Sangat Bermanfaat
USG payudara menggunakan gelombang suara (ultrasonografi) sehingga tidak menggunakan radiasi.

Pemeriksaan ini bukan pengganti mamografi, melainkan sering digunakan sebagai pelengkap untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap.

Kapan USG Payudara Disarankan?
USG payudara umumnya dilakukan pada:

Wanita berusia di bawah 40 tahun yang memiliki keluhan pada payudara.

Wanita dengan jaringan payudara padat.

Menilai benjolan yang ditemukan saat pemeriksaan fisik atau mamografi.

Membedakan apakah benjolan berisi cairan (kista) atau jaringan padat.

Membantu mengarahkan tindakan biopsi bila diperlukan.

Keunggulan USG Payudara
Tidak menggunakan radiasi.

Aman untuk wanita hamil maupun menyusui bila memang diperlukan.

Sangat baik untuk mengevaluasi jaringan payudara yang padat.

Membantu dokter menentukan karakteristik benjolan secara lebih detail.

Persiapan Pemeriksaan
USG payudara umumnya tidak memerlukan persiapan khusus. Pasien cukup mengenakan pakaian yang nyaman agar area payudara mudah diperiksa.

Tumor Marker: Bukan untuk Skrining Rutin
Pemeriksaan tumor marker adalah tes darah yang mengukur zat tertentu yang dapat meningkat pada beberapa jenis kanker, misalnya CA 15-3 atau CEA.

Namun, penting diketahui bahwa tumor marker bukan pemeriksaan utama untuk mendeteksi kanker payudara pada orang yang sehat.

Kapan Tumor Marker Dilakukan?
Dokter biasanya menyarankan pemeriksaan tumor marker untuk:

Memantau respons pengobatan kanker payudara.

Mengetahui kemungkinan kekambuhan setelah terapi.

Mengevaluasi perkembangan penyakit pada pasien yang telah didiagnosis kanker.

Keunggulan Tumor Marker
Hanya memerlukan sampel darah.

Membantu dokter memantau efektivitas terapi.

Membantu evaluasi selama masa tindak lanjut pasien kanker.

Apakah Tumor Marker Bisa Menentukan Ada atau Tidaknya Kanker?
Tidak.

Hasil tumor marker dapat meningkat karena kondisi selain kanker, dan pada sebagian pasien kanker hasilnya justru bisa tetap normal. Oleh karena itu, pemeriksaan ini tidak digunakan sebagai skrining utama dan harus dikombinasikan dengan pemeriksaan klinis, mamografi, USG, atau biopsi bila diperlukan.

Pemeriksaan Mana yang Sebaiknya Dipilih?
Tidak semua orang memerlukan jenis pemeriksaan yang sama.

Pemeriksaan

Tujuan Utama

Cocok Untuk

Mamografi

Skrining dan deteksi dini

Wanita usia ≥40 tahun atau berisiko tinggi

USG Payudara

Melengkapi mamografi dan mengevaluasi benjolan

Wanita usia muda, payudara padat, atau memiliki keluhan

Tumor Marker

Memantau pengobatan dan kekambuhan

Pasien yang sudah didiagnosis kanker

Pilihan pemeriksaan terbaik akan ditentukan oleh dokter berdasarkan usia, riwayat keluarga, gejala, dan hasil pemeriksaan sebelumnya.

Deteksi Dini Tersedia di Oncology Center RS Awal Bros
Oncology Center RS Awal Bros menyediakan layanan deteksi dini kanker payudara secara komprehensif dengan dukungan dokter multidisiplin dan teknologi diagnostik modern, meliputi:

Konsultasi dengan dokter spesialis.

Pemeriksaan klinis payudara.

Mamografi digital.

USG payudara.

Pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi, termasuk tumor marker.

Biopsi bila diperlukan.

Pendampingan hingga pengobatan terpadu apabila ditemukan kelainan.

Dengan pemeriksaan yang tepat sejak dini, peluang menemukan kanker pada stadium awal menjadi lebih besar sehingga pengobatan dapat dilakukan lebih cepat dan hasil terapi menjadi lebih optimal.

Kanker payudara bukanlah penyakit yang selalu datang tanpa peringatan. Melalui deteksi dini yang tepat, kanker dapat ditemukan sebelum menimbulkan gejala serius.

Wanita berusia 40 tahun ke atas dianjurkan melakukan skrining secara berkala, sedangkan mereka yang memiliki faktor risiko tinggi dapat memerlukan pemeriksaan lebih awal sesuai anjuran dokter.

Jangan menunggu muncul benjolan atau rasa nyeri. Semakin cepat kanker ditemukan, semakin besar peluang untuk sembuh dan kembali menjalani hidup dengan kualitas yang baik.

Referensi:
Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) 2022 – International Agency for Research on Cancer (IARC).

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Rencana Pencegahan dan Pengendalian Kanker Nasional 2024–2034.

US Preventive Services Task Force. Screening for Breast Cancer: Recommendation Statement. JAMA. 2024.

Pan-Asian Adapted ESMO Clinical Practice Guidelines for Early Breast Cancer. 2024.

ESMO Clinical Practice Guideline: Early Breast Cancer. 2024.
Bagikan:

Santara AI

Online

Buka Penuh